MUHAMMADIYAH DAN NU : Ketegangan dalam Keharmonisan

Dua organisasi muslim besar di Indonesia: ketegangan dalam keharmonisan

Oleh : Agus Triawan

NU - MuhammadiyahTulisan ini merupakan review dari hasil penelitian Prof. Abdurrahman Mas’ud, Dosen Pasca Sarjana UNSIQ Wonosobo yang sekarang menjabat Kepala Litbang Kementerian Agama. Semoga hal ini menambah wawasan kita dan lebih membuka cakrawala kita tentang kedua organisasi tersebut. Diskusi mengenai hubungan antara NU dan Muhammadiyah masih terus berlanjut dan semakin menarik. Yang dibahas dalam tulisan ini adalah mengenai bentuk hubungan NU dan Muhammadiyah serta resolusi konflik yang diambil oleh kedua organisasi tersebut. Walaupun di Indonesia ada oraganisasi atau pergerakan yang lain semisal PERSIS, LDII, dan lainnya. Konflik yang terjadi bukanlah faktor ideologi atau ranah aqidah. Tetapi, justru karena faktor kultur atau budaya, kebiasaan dan budaya. Pada ranah pengambil kebijakan kedua organisasi tersebut sampailah pada ranah kepentingan sosial, kewibawaan, dan politik.

Ada dua resolusi konflik yang dibangun menurut penulis: pertama, merubah cara pandang yang lebih toleran, moderat dalam memahami perbedaan pemikiran yang terkait dengan masalah khilafiyah dan menfokuskan pada masalah-masalah kontemnporer. Kedua, membuka pemikiran yang datang dari luar organisasinya dengan mempromosikan kepada para cendekiawan  muslim yang berasal dari pengurus internal, baik yang ada dalam organisasi tersebut ataupun yang berada di luar oranisasi.

Dalam ranah grass root (akar rumput) dan masyarakat bawah, perbincangan yang terjadi masih dalam seputar Tahlilan, Yasinan, Qunut, bersalam-salaman pasca Shalat, ziarah dansejenisnya. Perbincangan dan diskusi seperti itu menjadikan masyarakat cerdas apabila disebutkan referensi dan tidak memakai emosi.

Fanatisme kelompok sulit dihindarkan dalam ranah stackholder kedua organisasi tersebut. Tetapi dengan pemikiran terbuka (open minded) ada ruang terbuka untuk tukar ilmu dan wawasan. Fanatisme tanpa menjelekkan, tetai justru saling menghormati. Islam akan makin kaya dengan budaya yang ada. Biarlah dengan keangggotaan organisasi dengan kultur masing-masing.

Dalam bidang pendidikan, NU mempunyai sistem yang unik berupa pesantren, sedangkan muhammadiyah dengan sistem pendidikan formalnya. Adapun sekarang pesantren  juga sudah mulai diformalkan oleh pemerintah.

Dalam ranah kepentingan politik, muhammadiyah lebih berafiliasi kepada PAN, sedangkan NU cenderung kepada PKB atau PPP. Walaupun Nu dan Muhammadiyah bukanlah organisasi politik tetapi keramian dan kericuhan politik didalamnya juga sempat ada. Hal ini bisa terjadi karena pengaruh pimpinan kelompok organisasi di suatu daerah.

 Muhammadiyah cenderung ke Partai Amanat Nasional karena tokoh Amin Rais. NU ke PKB karena ada tokoh KH  Abdurrahman Wahid, ada juga yang ke NU karena ada Romi dan seterusnya. Pada berjalannya waktu masyarakat makin cerdas dengan memilih atau mengikuti sesuai selera dan tolok ukur kualitas partai politik masing-masing.

Sejarah berdirinya NU dan Muhammadiyah tidak terlepas dari sejarah berdirinya organisasi yang lain. Seperti Syarekat dagang Islam (1909), Syarikat Islam (1911), Muhammadiyah (1912) dan NU (1926). Setelah satu abad yang mendominasi di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah.

Masing-masing organisasi tersebut juga mempunyai organisasi otonom (ortom) dalam upaya dan proses kaderisasi. Semisal dalam muhammadiyah ada IPM, IRM, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, Aisyiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Tapak Suci Putera Muhammadiyah, KOKAM dan lain-lain. NU juga ada IPPNU. Muslimat, Gerakan Pemuda Anshor, Banser, PMII dan yang lain.

Untuk menutup review ini, walaupun akan terus berlanjut, sesuai dengan berjalannya zaman. Berbagai macam yang ada dalam kedua organisasi tersebut hendaklah dimakna sebagai kekayaan dan dinamisasi berkehidupan. Berpikiran terbuka tapi dibarengi dengan nalar kritis. Menerima yang positif dan memfilter yang tidak bagus, bahkan yang bisa merusak ajaran agama. Mendukung program kedua organisasi tersebut untuk kemajuan bersama, agama, nusa dan bangsa.*)

Iklan

ULUL ALBAB DI ZAMAN MODERN

Oleh : Agus Triawan

الحمد لله الذي نحمده ونستعينه ونستغفره. ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيئات اعمالنا . من يهده الله
فلا مضل له. ومن يضلل فلن تجد له وليا مرشدا. أشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له. واشهد أن محمدا عبده ورسوله. أللهم صل و سلم وبارك على نبينا محمد و على أله و أصحابه أجمعين. أما بعد. فيا عباد الله. أوصيكم واياي بتقوى الله فقد فاز المتقون .

Puji syukur senantiasa kita panjatkan dari lubuk yang paling dalam kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan sayang yang tidak terbilang. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, sahabat dan semua kaum muslimin yang mengikuti risalahnya sampai akhir zaman. Marilah kita tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dalam setiap kesempatan, siang atau malam, sehat atau sakit, kaya ataupun miskin, sibuk maupun dalam keadaan sempat.
Jama’ah sholat jum’at yang dirahmati Allah.
Era sekarang adalah era globalisasi, era modern, era teknologi dan informasi. Barang siapa yang tidak bisa mensikapi perkembangan yang cepat, maka bisa terlindas zaman. Menjadi orang yang tidak peka dan kurang infomasi. Guncangan dan tiupan media massa begitu kencang menghinggapi kita, bahkan sampai tidak terkonsumsi semua ketika menjadi konsumen informasi. Anak dan remaja, pelajar dan mahasiswa hampir pada dirinya ada hp, android, tablet atau gadget lainnya. Seolah diri kita sudah terpasung dengan perangkat seperti itu. Bagaimana kita umat Islam bisa menghadapi dan menjalaniya?
Dalam kancah peradaban Islam, Ulul Albab bisa menjadi salah satu solusinya. Ketika menghadapi haru birunya kehidupan dunia, kapitalisme yang merajalela dan hampanya batin dalam beragama. Berikut akan kita ulas beberapa hal yang berkaitan dengan ulul Albab.

1. Senantiasa berdzikir atau mengingat Allah.
Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأولِي الألْبَابِ (١٩٠)الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (١٩١)

Artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS Ali Imran 3: 190-191)
Ayat ini menjelaskan bahwa Ulul Albab adalah yang senantiasa mengingat dan mentadabburi kekekuasaan Allah, selalu mengingat Allah dan segala yang diciptakan-Nya, termasuk silih bergantinya siang dan malam, diciptakannya langit dan bumi serta segala isinya, semua adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Termasuk sesuatu hal yang menurut manusia mempunyai madharat atau bahaya dan tidak bermanfaat, tapi Allah menciptakan sesuatu tidaklah ada yang sia-sia. Semua ada manfaat atas izin-Nya. termasuk misalnya Allah menciptakan suatu penyakit, pasti ada maksudnya dari ciptaan Allah tersebut, misalnya supaya ada pemikiran dan pertumbuhan keilmuan, ada dokter dan rumah sakit, ada apotik dan apoteker, ada tukang sapu rumah sakit dan laundry nya. pertumbuhan keilmuan terus berkembang dengan semakin adanya pemikiran dari umat manusia yang mentaddaburi ayat-ayat Qauliyah dan ayat-ayat Kauniyah-Nya.
Ulul Albab juga senantiasa berdzikir lewat lisan dan hatinya dalam berbagai keadaan, baik dalam keaadaan berdiri, duduk ataupun berbaringnya. Senantiasa mengingat Allah dalam segala sendi kehidupannya. Sehingga malu untuk melaksakan kemaksiatan, sementara bibirnya basah dengan dzikir ilahi. Subhanallah, Walhamdulillah Walaa Ilaaha lllallahu Wallahu Akbar..
Jama’ah sholat jumat yang bernahgia.
2. Belajar dari kisah positif yang mengandung hikmah
Allah ta’ala berfirman:

وَلَكُمْ فِي الْقِصَاصِ حَيَاةٌ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٧٩)

Artinya: Dan dalam kisah itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, Hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa. (QS Al Baqarah: 179)
Dengan belajar dari kisah/sejarah masa lalu, maka orang bisa mengambil pelajaran, mengambil ibrah dan bertambahlah kebijaksanaannya. Mengambil sesuatu yang baik dan meninggalkan yang tidak baik. Urat syaraf makin mengembang, mengenal dan melanjutkan cita-cita moyangnya dahulu. Ada kelangsungan hidup dan keberlangsungan peradaban. Itu seumua dipikirkan dengan akal sehat dan endingnya adalah menjadi manusia bertakwa yang diridhai Allah SWT.

3. Bisa membedakan baik dan buruk
Allah ta’ala berfirman:

قُلْ لا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الألْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (١٠٠)

Artinya: Katakanlah: “tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al Maidah: 100)
Membedakan yang baik dan buruk merupakan pekerjaan yang tidak terlalu sulit, karena manusia sudah dibekali dengan insting oleh Allah SWT. Kemudian membedakan benar dan salah disamping inting juga perlu belajar aturan-aturan tentang kebenaran dan sesuatu hal yang tidak benar. Maka di situlah manusia perlu belajar akan undang-undang, baik undang-undang yang berasal dari Allah, yaitu Al-Quran dan Hadits maupun undang-undang yang dibuat oleh manusia. Batin tidak bisa dibohongi dengan perlakuan yang berbeda, batin tidak bisa dibohongi ketika kita berbicara berlawanan dengan kebenaran. Maka perlunya kesadaran diri dan ikhsan, bahwa manusia senantiasa diawasai oleh Roqiibun Attid. Malaikat Allah yang selalu merekam aktifitas manusia.
Ketika hati sudah biasa dibohongi maka menjadi keraslah hati itu yang akhirnya bisa menjadi hati yang sakit bahkan menjadi hati yang mati karena kemaksiatan yang menumpuk. Dosa kecil yang dilakukan berulang kali maka akan menumpuk dan menjadi dosa besar.
Jamaah jumat rahimakumullah,
4. Orang yang bisa mengambil pelajaran.
Allah Taa’ala meneguhkan dalam firman-Nya:

أَفَمَنْ يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (١٩)

Artinya: Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (QS Ar Ra’d: 19)
Tentunya sebagai umat Islam terus mencari pengetahuan akan agamanya, mencari pengetahuan tentang Allah dan Rasulnya. Sehingga tidak menjadi orang yang jahil dan bodoh tentang Islam. Dia tidak tahu agamanya kecuali sedikit saja. Sehingga ketika seseorang banyak wawasan tentang agama, tidak mudah menjustifikasi, meyalahkan apalagi sampai memfitnah orang. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah. Penyakit yang meudah merasuk pada diri manusia adalah merasa diri sudah cukup dengan ilmunya, sehingga tidak pernah lagi belajar agama, tidak membaca buku-buku keislaman, tidak menghadiri pengajian atau majlis ta’lim. Yang akhirnya seseorang itu tidak tahu kalau dirinya adalah tidak tahu. Maka memaksa diri untuk terus belajar dan mengambil pelajaran dari para ulama mutlak diperlukan oleh kita semua tanpa kecuali.
5. Orang yang merenungkan Alquran.
Allah taala berfirman

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ (٢٩)

Artinya: ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran. (QS Shaad : 29)
Senantiasa membaca, mentadabburi dan mengamalkan Al-Qur’an. Merupakan tugas suci kaum muslimin. Barangsiapa membaca satu huruf dari al-qur’an maka baginya satu kebaikan. dan satu kebaikan itu dilipatgandakan menjadi sepuluh kali sepadannya. Al-qur’an juga pada hari kiamat akan hadir membari syafaat atau pertolongan kepada pembacanya. Maka tidak pantas apabila mushaf hanya sebagai pajangan dan hiasan di rumah-rumah kaum muslimin. Alqur’an adalah untuk dibaca, dicermati, dipahami, di tadabburi dan diamalkan.
Berikan pengertian kepada anak generasi kita akan urgensi belajar Al-Qur’an. Dirikan dan hidupkan madrasah-madrasah Al-Qur’an, berikan gaji dan honor yang besar kepada guru Al-Qur’an. Jangan sampai kita menyesal tidak mengajari anak kita sejak kecil. Kita menyesal dan terkaget-kaget ketika anak kita sudah dewasa tapi membaca Al Qur’an masih kesulitan. Tidak ada yang disalahkan tapi teruslah bergerak untuk kita, anak kita, keluarga kita dan semua kaum muslimin kita.
Semoga Allah senantiasa membimbing kita di jalan-Nya. menjadikan kita sebagai Hamba Allah yang Ulul Albab dan membasahi lisan kita dengan untaian kalimatnya yang agung tiada tara. Senantiasa menjadika kita orang yang bermanfaat bagi diri dan orang lain. Senantiasa diberi kecukupan harta dan terbebas dari hutang yang menyiksa. Semoga Allah juga memberika pemimpin kepada kami pemimpin yang adil dan amanah, pemimpin yang saleh dan tidak kesulitan dalam menghadapi hisabMu di akhirat nanti.
Semoga amal ibadah kita diterima Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم. لي ولكم ولسا ئر المسلمين والمسلمات من كلِ ذنبٍ فاستغفروه انه هو التواب الرحيم .

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله رب العالمين . وصلوا ت الله وسلامه على نبينا محمد وعلى اله وأصحابه أجمعين.
أللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات ألاحياء منهم والأموات. انك سميع قريب مجيب الدعوات يا قاضي الحاجات.
أللهم أرنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وأرنا الباطلا باطلا وارزقنا اجتنابه.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
ربنا أتنا في الدنيا حسنة وفي لأحرة حسنة وقنا عذاب النار.
سبحان ربك رب العزة عما يصفون. وسلام على المرسلين . والحمد لله رب العالمين.

Kiat Menjadi Pelajar Bahagia

Pelajar BahagiaBagaimana kabarnya kalian wahai para pelajar dan penuntut ilmu…?

Oh ya, mohon maaf yang namanya pelajar tidak harus siswa lho…, tapi semua orang yang sedang belajar. Belajar apapun. Maka lebih hebat kalau disebut pembelajar. Baik itu siswa sendiri, mahasiswa, guru, dosen, penulis, wartawan, petani atau apapun profesinya yang penting sedang belajar.

Oke, kita akan lebih spesifik bahwa pelajar adalah siswa, baik itu siswa SD, SLTP, maupun SLTA. Tapi lebih spesifik lagi adalah siswa SLTA dan sederajat, bisa Madrasah Aliyah (MA) atau Sekolah Menengah Kejuruan. Apapun jurusannya.

Pelajar yang ideal adalah pelajar yang berbahagia dengan status dan aktivitas belajarnya. Bukan juara atau rangkingnya. Karena tidak semua pelajar bisa jadi juara. Tapi semua pelajar bisa berbahagia. Misal dari satu kelas sebanyak empat puluh anak. Tentunya tidak semuanya menjadi rangking pertama. Ada kedua, ketiga dan seterusnya atau bahkan harus ada yang jadi rangking terakhir.

Bagaiaman trik atau resep jadi pelajar berbahagia? Kita sampaikan beberapa trik dan resep jadi pelajar berbahagia, supaya berangkat ke sekolah denganhati gembira dan berbunga-bunga. Semoga pelajar Indonesia menjadi pembelajar yang bangga dan berbagia dan tidak ada pelajar yang kongkow-kongkow, stress, atau jalan-jalan liar ketika saatnya KBM di sekolahnya masing-masing.

Resep pertama dan utama menjadi pelajar berbahagia adalah mendapat restu Tuhan. Artinya diridhoi oleh Allah Tuhan kita, kenapa bisa begitu? Karena Tuhanlah yang membahagiakan seseorang dan menyengsarakannya. Bagimana melakukan aktifitas yang tidak disukai Tuhan, maka Tuhan akan murka. Bagaimana dibenci dan dimurkai Tuhan? Tentunya menyedihkan dan sangat tersiksa. Ketika kita sedang dibenci oleh seseorang saja, mungkin orang tua, teman apalagi pacar kita tentunya kita sangat bersedih, bagaimana ketika kita dibenci Tuhan. Iya kan?

Bagaimana cara mendapat restu dan ridho Tuhan? Tentunya sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing. Kita ambil contoh bagi orang yang beragama Islam. Tentunya melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Dengan salat lima waktu dalam sehari semalam. Itu akan membuat Tuhan ridho, akhirnya sekolah juga menjadi tenang dan nyaman. Berbeda ketika kita berangkat sekolah belum salat subuh karena bangun kesiangan. Haha. Maka cepatlah bangun pagi, salat subuh dan bisa berangkat sekolah. Tentunya setelah mandi dan sarapan pagi. *)

RIBA DALAM AL QUR’AN

  1. Pendahuluan

Perdebatan mengenai masalah riba tidak henti-hentinya untuk dibicarakan. karena riba masih banyak persepsi dan pandangan. Dilihat dari sudut pandang mana riba mau dibahas. Terlebih lagi ketika diaplikasikan dalam kehidupan nyata.

            Manusia dalam berkehidupan tidak terlepas dari kebutahan primer. Yaitu papan, pangan dan sandang. Barangsiapa yang kekurangan dan belum bisa memenuhi kebutuhan primernya maka yang bersangkutan akan melakukan hal solutif, misalnyamelakukan hutang. Dewasa ini orang berhutang tidak hanya untuk menutupi kebutuhan primernya tapi sekunder dan tersier. Baik berhutang kepada perseorangan maupun kepada bank ada kaitannya dengan balas budi.

            Ketika hutang juga ada yang berinisiatif memberi tambahan baik diakadkan di muka maupun tidak diakadkan. Bagaimana kalau yang memutuskan satu pihak saja yaitu pihak bank yang menentukan. Berdasarkan rasa terpaksa karena membutuhkan.

            Bagaimana pandangan Islam tentang riba, apakah sama dengan tambahan dalam hutang pitang dan bagaimana juga kasusnya dalam jual beli atau riba dalam kasus lain? Bagaimana ketika kita dalam pihak yang mendapatkan tambahan dan harta kita bertambah?

Pembahasan makalah ini akan membahas masalah riba ditinjau dalam perspektif Al qur’an dan perspektif lain yang berkaitan.

  1. Pembahasan
  2. Pengertian riba

Secara bahasa riba berarti tambahan. Ibn Mandhur dalam lisan al ‘arab menyebutkan riba (رَبا الشيءُ يَرْبُو رُبُوّاً ورِباءً) artinya bertambah dan tumbuh, sedangkan (أَرْبَيْتُه) artinya saya menumbuhkannya.[1] Sedangkan makna riba secara syar’i menurut beberapa definisi ahli diantaranya; Pertama dalam orientasi riba qurudh (pinjam-meminjam): Ibn al Atsir, Imam as Tsa’laby begitu juga Ibn Mandhur mengatakan: secara syar’i adalah tambahan atas harta pokok diluar akad jual beli. Dari pengertian ini jelas bahwa riba disini adalah definisi untuk riba pinjam-meminjam dimana dalam definisinya disebutkan diluar akad jual beli. Definisi disini bisa saja karena riba dalam qurudh adalah riba jaliy (jelas ribanya) yang sudah disepakati. [2]

Kedua dalam orientasi riba jual-beli riba diartikan sebagai: Kelebihan tanpa adanya ganti yang disyaratkan dalam jual beli.[3] Sedangkan Muhammad as Syarbiny menjelaskan bahwa riba adalah akad atas ganti sesuatu yang tertentu tanpa diketahui kesamaannya dalam neraca syariat pada saat akad, atau dibarengi dengan penundaan dua barang tersebut atau salah satunya. [4] Sedangkan al ‘alamah al ‘Aini menyebutkan bahwa riba adalah kelebihan harta tanpa ganti pada pertukaran harta dengan harta.[5]

Sedangkan pengertian riba yang menggabungkan antara keduanya dapat dikatakan bahwa riba adalah setiap tambahan yang tidak diimbangi dengan ganti.[6] Sedangkan Ibn al Qudamah menjelaskan bahwa riba adalah tambahan dalam hal-hal tertentu.[7] Dari kedua pengertian ini nampak bahwa baik riba jual beli maupun riba pinjam-meminjam masuk didalamnya. Hanya saja pada pengertian yang pertama tidak spesifik karena bisa juga tambahan-tambahan yang selain riba bisa masuk ke dalam pengertian itu.

Ada berbagai morfologi Kata riba dalam al Qur’an diantanya:

  1. Rabat (ربت) ada dua yaitu dalam S. al Hajj (22) ayat lima dan Q.S. Fushilat (41) ayat 39
  2. Yarbu/yarbuwa (يربوا)ada dua yaitu dalam Q.S. ar Rum (30) ayat 39
  3. Rabbayaani (ربياني) ada dalam Q.S. al Isra’ (17) ayat 24
  4. Nurabbika (نربك) ada dalam Q.S. as Syu’ara’ (26) ayat 18
  5. Yurbi (يربي) ada dalam Q.S. al Baqarah (2) ayat 276
  6. Rabiyan (رابيا) ada dalam Q.S. ar Ra’du (13) ayat 17
  7. Rabiyah (رابية) ada dalam Q.S. al Haqqah (69) ayat 10
  8. Arbaa (أربى) ada dalam Q.S. an Nahl (16) ayat 92
  9. Arribaa (الربو) ada tujuh, yaitu dalam Q.S. al Baqarah (2) ayat 275 disebutkan 3 kali, ayat 276 dan 278. Kemudian Q.S. Surat Ali ‘Imran (3) ayat 130 dan Q.S. an Nisa (4) ayat 161
  10. Riban (ربا) ada dalam Q.S. ar Rum (30) ayat 39
  11. Rabwah (ربوة) ada dua yaitu dalam Q.S. al Baqarah (2) ayat 265 dan Q.S. al Mu’minun (23) ayat 50
  12. Pembagian Riba

Dari pengertian sebelumnya riba dapat dibagi menjadi dua:

  1. Riba Qurudh

Riba qurudh disebut juga riba jaliy (nampak), riba nasi’ah, riba hakiki, ribal qur’an. Para ulama menyebut riba nasi’ah sebagai riba jahiliah, karena mereka (masyarakat jahiliah Arab pada saat itu) tidaklah bermuamalah dengan riba melainkan riba ini. Abu Bakar al Jashas mengatakan bahwa riba yang dikenal dan dilakukan oleh orang Arab pada saat itu adalah meminjam beberapa dinar atau dirham sampai jangka waktu tertentu dengan tambahan atas apa yang dia pinjam sesuai dengan apa yang mereka sepakati.[8] Al Fakhrur Razi mengatakan bahwa riba nasiah adalah riba yang mashur dan dikenal pada zaman jahiliah, dimana mereka meminjamkan sejumlah harta kemudian mengambil dalam setiap bulannya bagian yang telah ditentukan (bunga) sehinggaa setelah sampai pada waktu pengembalian harta itu peminjam memintanya (pokok pinjaman). Tetapi jika sipeminjam tidak bisa membayar pada waktu itu maka diberi waktu tenggang dengan tambahan bunga lagi atas harta yang dipinjam. Inilah yang mereka lakukan di zaman jahiliah.[9]

Tidak hanya di zaman jahiliah, ternyata riba jenis ini juga banyak terjadi di zaman sekarang. Ini dapat dilihat dimasyarakat kita dengan menjamurnya rentenir, bank plecet, bank thitil, atau nama-nama yang lain yang tersebar diberbagai daerah. Begitu juga traansaksi-transaksi di bank-bank modern/ konvensional yang mung tidak bisa terlepas praktek-praktek riba ini.

  1. Riba Buyu’

Riba buyu’ atau jual beli disebut juga riba khafiy, riba mahmul ‘alaihi, atau riba sunah yang pengharamannya dilakukan oleh sunah Nabi. Imam Muslim meriwayatkan dari Ubadah bin Shamit ra, saya mendengar Rasulullah saw melarang jual beli emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, kurma dengan kurma, garam dengan garam kecuali harus sama dan sejenis, dan barang siapa melebikan maka dia sudah berbuat riba.[10]

  1. Dalil tentang riba dalam al Qur’an
  2. Dalam surat al Baqarah:275, 276, 278 – 280

الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا فَمَنْ جَاءَهُ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّهِ فَانْتَهَى فَلَهُ مَا سَلَفَ وَأَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ وَمَنْ عَادَ فَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (275) يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ كَفَّارٍ أَثِيمٍ (276)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (278) فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُءُوسُ أَمْوَالِكُمْ لَا تَظْلِمُونَ وَلَا تُظْلَمُونَ (279) وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَى مَيْسَرَةٍ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (280)

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah . Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa . (275-276)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) tiu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (278-280)

  1. Dalam surat Ali Imran:

{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (130)} [آل عمران: 130]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.

Allah ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman agar tidak mengambil dan memakan riba terlebih secara berlipat ganda. Dimana merupkan adat kebiasaan jahiliyah adalah ketika sudah jatuh tempo pengembalian hutang sedangkan si peminjam belum bisa mengembalikan hutangnya ditambah dengan ribanya maka diberi waktu tenggang dengan tambahan riba yang lainnya sehingga semakin lama hutang yang sedikit itu semakin membengkak karena tambahan riba yang terus menerus. Inilah yang dikatakan sebagai riba jahiliyah.[11]

  1. Dalam surat an Nisa:

وَأَخْذِهِمُ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ وَأَكْلِهِمْ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ مِنْهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. (an Nisa:161)

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah ta’ala telah melarang mereka (kaum Yahudi) untuk memakan riba tetapi mereka mengambilnya dengan berbagai subhat dan tipu muslihat dan mereka juga memakan harta orang lai secara batil maka Allah menimpakan kepada mereka adzab yang pedih.[12]

  1. Dalam surat Ar Rum

وَمَا آتَيْتُم مِّن رِّباً لِّيَرْبُوَ فِي أَمْوَالِ النَّاسِ فَلَا يَرْبُو عِندَ اللَّهِ وَمَا آتَيْتُم مِّن زَكَاةٍ تُرِيدُونَ وَجْهَ اللَّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُضْعِفُونَ

Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (ar Rum: 39)

Muhammad Nasib dalam taisir menyebutkan Siapa saja memberi orang lain supaya ia diberi dengan yang lebih dari apa yang telah diberikan maka sama sekali dia tidak akan mendapat pahala di sisi Allah. Ibn Abbas menyebutkan bahwa perbuatan sepacam ini hukumnya mubah hanya saja Rasulullah secara khusus dilarang oleh Allah dalam firman-Nya; Wa laa tamnun tastaksir (dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak)[13].

  1. Hukum riba

Kebijaksanaan al Qur’an dalam menerapkan hukum mengandung beberapa prinsip:[14]

  1. Memberikan kemudahan dan tidak menyulitkan (2:185, 65:7, 2:286, 2:78)
  2. Menyedikitkan tuntutan (5:101-102)
  3. Bertahap dalam menerapkan hukum

Misal ayat riba (turun di Makah 30:39, turun di Madina annisa:160-161, ali imran:30, al Baqarah: 275-279)

  1. Sejalan dengan kemaslahatan umat (7:56, 5:88)

Dari dalil-dalil al Qur’an yang telah disebutkan maka dapat dikatakan bahwa larangan riba diturunkan tidak sekaligus melainkan diturunkan dalam 4 tahap;

  1. Tahap pertama, menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai suatu perbuatan yang mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT. “Dan, sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar ia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan, apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridoan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”(ar-Ruum:39)
  2. Tahap kedua, riba digambarkan sebagai suatu yang buruk. Allah SWT mengancam akan memberikan balasan yang keras kepada orang Yahudi yang memakan riba. “Maka, disebabkan kezaliman orang-orang yahudi, kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik(yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir diantara mereka itu siksa yang pedih.” (an-Nisaa’: 160-161)
  3. Tahap ketiga, riba diharamkan dengan dikaitkan kepada suatu tambahan yang berlipat ganda. Para ahli tafsir berpendapat bahwa pengambilan bunga dengan tingkat yang cukup tinggi merupakan fenomena yang banyak dipraktikan pada masa tersebut. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keuntungan.”(Ali imran:130) Ayat ini turun pada tahun ke-3 Hijriah. Secara umum, ayat ini harus di pahami bahwa kriteria berlipat ganda bukanlah merupakan syarat dari terjadinya riba (jikalau bunga berlipat ganda maka riba, tetapi jikalau kecil bukanlah riba), tetapi ini merupaka sifat umum dari praktik pembungaan uang pada saat itu.
  4. Tahap terakhir, Allah SWT dengan jelas dan tegas mengaharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Ini adalah ayat yang terakhir yang diturunkan menyangkut riba. “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum di pungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan, jika kamu bertobat dari pengambilan riba) maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”(al-Baqarah: 278-279)

Secara tegas riba diharamkan dalam al Qur’an, Sunah dan Ijma’.[15] Riba termasuk dalam kabair bahkan digolongkan dalam tujuh dosa yang membinasakan . Rasulullah saw bersabda:

اجتنبوا السبع الموبقات قالوا: يا رسول الله وما هن؟ قال: الشرك بالله، والسحر، وقتل النفس التي حرم الله إلا بالحق، وأكل الربا، وأكل مال اليتيم، والتولي يوم الزحف، وقذف المحصنات الغافلات المؤمنات

Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang membinasakan! Apa itu wahai Rasulullah saw? Syirik menyekutukan Allah, membunuh jiwa yang diharamkan Allah tanpa ada alasan yang benar, memakan riba, memakan harta anak yatim, berpaling dari peperangan, menuduh wanita baik-baik berbuat zina.”[16]

Dalam hadis lain Rasulullah juga bersabda:

لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهديه

“Rasulullah saw melaknat orang yang memakan riba, yang memberinya, penulisnya, dan kedua saksinya.”[17]

Umat Islam sepakat tentang asal pengharaman riba hanya saja para ahli hokum berbeda pendapat dalam perinciannya dan berbagai syaratnya.[18] Imam An Nawawi menyebutkan bahwa umat Islam secara keseluruhan sepakat tentang pengharaman riba walaupun mereka berselisih dalam hal kaidah dan pengertiannya.[19]

Nash pengharaman riba dari Nabi saw hanya enam hal; emas, perak, tepung, gandum (as sya’ir dan al birr), kurma dan garam. Maka ahlu Dhahiri mengatakan tidak ada riba dalam selain enam hal ini, karena mereka tidak menganggap adanya kias. Sedangkan ulama lainnya menyebutkan bahwa ridab ridak khusus pada enam hal ini tetapi juga pada yang lainnya yaitu yang sejenis dan tercakup dalam illah yang sama. Tetapi mereka berbeda pendapat tentang illah hukum yang ditentukan.

Dalam ayat-ayat riba yang telah disebutkan sebelumnya, Allah juga telah menjelaskan lima hukuman bagi para pemakan riba;

  1. Pertama adalah at takhabbuth yaitu orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
  2. Kedua adalah al mahqu yaitu kebinasaan dan hilangnya keberkahan harta sehingga dia tidak sedikitpun bisa menikmati harta yang telah diperoleh.
  3. Ketiga adalah al harbu yaitu pernyataan perang memusuhi Allah dan Rasui-Nya.
  4. Keempat al kufru yaitu kekafiran keluar dari keimanan.
  5. Kelima adalah kekal dalam neraka; “Barang siapa kembali memakan riba (setelah jelas keharamannya) maka meraka itulah penduduk neraka yang kekal didalamnya”[20]

Sudut pandang ekonomi alasan-alasan pengharaman riba:[21]

  1. Sikap mengambil resiko membedakan perdagangan dengan bunga. Mengambil resiko adalah dasar perdagangan normal yang dibolehkan dalam Islam, sedangkan bunga telah ditentukan dan tidak berubah-ubah seperti laba.
  2. Bila modal ditanam dagang menghasilkan laba dan laba itu adalah hasil dari ikhtiar, kegiatan berusaha dan efisien. Tidak demikian halnya dengan bunga, karena si memberi pinjaman mendapat sejumlah uang baginya sendiri atas pinjamannya tanpa menghiraukan rugi atau laba yang berutang atau para penanam uang.
  3. Dalam perdagangan, kalau suatu barang telah terjual maka perhubungan jual beli berakhir. Sei pembeli tidak lagi memberikan apa-apa sesudah terjadi jual beli kepada sipenjual. Tetapi dalam urusan bunga, si pemberi pinjaman tidak akan henti-hentinya meminta bunga (selama pinjaman pokok belum dilunasi). Oleh sebab itu terdapat suatu batas laba yang orang berharap dalam perdagangan, tetapi tidak ada batas tersebut dalam hal bunga yang diterima oleh si pemberi pinjaman.
  4. Sejak dagang adalah produktif dan orang mendapat laba setelah mengeluarkan tenaga, bekerja keras dan menggunakan keterampilan, maka perdagangan menciptakan suatu keadaan yang penuh pekerjaan dan berkembangnya ekonomi. Sebenarnya bunga memprakarsai krisis dan memperburukkannya sedangkan dagang tidak.
  5. Akhirnya perdagangan dapat memaikan peranan sebagai satu faktor berpengaruh dalam proses membangun peradaban melalui kerjasama dan saling pertukaran gagasan. Tetapi bunga membuat manusia menjadi berkemauan lemah, mementingkan diri sendiri dan ketiadaan simpati. Jadi baik dari sudut pandang ekonomi maupun dari sudut pandang etik, bunga menghancurkan perasaan perikemanusiaandan tolong-menolongan dan menghalangi kesempatan yang penuh dengan pekerjaan dan perkembangan ekonomi.
  6. Antara riba dengan bunga

Apakah bunga (interest) sama dengan riba, ada dua pendapat:[22]

  1. Yang fanatik anti suku bunga dan berpandangan bahwa pertukaran uang atau barang harus seimbang, sehingga tiap kelebihan adalah riba, didasarkan pada sabda-sabda Nabi Muhammad saw, diantaranya:
  • HR Bukhari dari Umar bi al Khattab: emas dengan emas riba melainkan dengan timbang-terima, kurma dengan kurma riba melainkan dengan timbang-terima, dan sya’ir dengan sya’ir riba melainkan dengan timbang-terima.
  • Seterusnya Umar berkata: “ayat-ayat yang terakhir diwahyukan adalah ayat-ayat yang menyangkut persoalan riba dan Nabi pergi tanpa menerangkannya kepada kita. Oleh sebab itu tinggalkanlah riba atau apa saja yang sejenis dengannya.
  • HR Bukhari dari Abu Bakar: Janganlah menjual emas dengan emas melainkan sama banyak, dan perak dengan perak melainkan sama banyak. Dan boleh kamu jual emas dengan perak dan perak dengan emas berapa kamu kehendaki.
  • HR Muslim dari abu Hurairah: emas dengan emas lagi yang sama jenisnya dan timbangannya; perak dengan perak lagi yang sama jenis dan timbangannya; barang siapa yang menambah atau meminta tambah, itu adalah riaba.
  • Berkata Anwar Iqbal Qureshi mengenai suku bunga (Anwar Iqbal Qureshi, Islam and the theory of interst, Lahore, 1946, hal. 131 dan 145 terjemahan Indonesia oleh Drs. M. ):

Islam telah menentukan tingkat suku bungan yang sama dengan nol, dan setiap tingkat suku bungan yanag lebih dari nol dianggap sebagai tingkat bunga riba. Kita akhirnya telah melihat kesalahan mereka yang membeda antara bunga dengan riba, dan sudah waktunya bagi kita untuk menyadari bahwa Islam tidak pernah berkompromi dalam hal ini.

  1. Yang moderat yang mengijtihadkan pengertian riba dalam keadaan perekonomian zaman modern, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad saw bahwa tentang urusan dunia kamu manusia lebih mengetaui. Menurut kaum moderat produktif kredit yaitu pinjaman untuk meningkatkan produksi yang dikenakan bunga yang wajar bukan riba, karena islam sangat menganjurkan investasi.

Dr. Mohammad Hatta, ahli ekonomi terkenal Indonesia mengatakan bahwa riba hanya berlaku untuk pinjaman yang konsumtif sifatnya. Dimana si peminjam melakukan peminjaman untuk memenuhi kebutuhan makanannya. Pungutan bunga untuk konsumtif kridit barang dilarang oleh Islam. Tetapi pinjaman yang produktif, dimana si peminjam sebelumnya tidak dalam keadaan terpaksa dan bisa mempertimbangkan apakan pinjaman itu menguntungkan atau tidak, maka pinjaman yang produktif diizinkan oleh agama.[23]

Demikian juga dengan bunga deposito yang wajar bukan bunga, karena uang deposito dipergunakan oleh bank untuk produktif kredit dan jauh dari memberatkan apalagi memeras bank. Bukankah bank memperoleh hasil investasinya dan deposan mendapat bagian dalam hasil investasi itu dalam bentuk bunga sebagai laba. (112)

Mufti besar mesir, syekh Muhammad Abduh dalam fatwanya menyatakan bahwa bunga deposito tidak dapat dianggap sebagai riba. Karena faktor riba harus uang yang betul-betul dipinjamkan sebagai suatu hutang, tetapi tidak bagi tabungan atau uang simpanan deposito yang diberikan kepada Bank untuk dipergunakannya bagi transaksi-transaksi ekonomi.[24]

Anwar Ahmad Qadry berkata mengenai deposito: (Islamic Jurisprudence in thr modrn world. Lahore 1981 h. 12-13)

Soal deposito dalam bank, dimana bunga dibayar, nampaknya lebih merupakan soal perniagaan, suatu kebutuhan dari kondisi-kondisi dunia modern yang tidak dapat dihindari. Bank menerima uang tidak sebagai seorang peminjam, tetapi sebagai titipan di Bank, diman uang titipan itu dijamin aman dan dapat diambil setiap waktu diperlukan. Tetapi dalam pandangan itu uang titipan tersebut tidak dapat dibiarkan mati; ia harus dipergunakan untuk mendapatkan laba, sebagian besar dari laba itu dalam bunga. Dari laba ini bank membayar sejumlah tertentu kepada para penitip uang yang jumlahnya tergantung kepada keadaan perekonomian dalam negara yang bersangkutan, atau perekonomian dunia pada umumnya. Bank tidak menyerahkan seluruh laba baik kepada para penitip uang maupun pemegang saham, tetapi memasukkan sebagian laba itu ke dalam dana cadangan yang dapat digunakan selama tahun-tahun yang kurang menguntungkan, atau dalam keadaan jrugi. Selama ia merupakan bagian laba (keuntungan) yang dihasilkan oleh bank maka ia dapat disetujui.[25] Di Indonesia Ketua MUI K.H. Hasan Basri menyatakan dengan tegas pula dalam Majalah infobank, mei 1984 bahwa bunga deposito bank adalal halal, senada dengan keputusan komisi fatwa MUI tanggal 5 Nov 1983.

  1. Kesimpulan

Dari uraian yang telah disampaikan maka dapat diambil beberapa kesimpulan:

  1. Di dalam al Qur’an telah terdapat berbagai pembahasan tentang riba dan berbagai morfologinya.
  2. Secara tegas al Qur’an telah mengaramkan riba dan disampaikan secara bertahap dalam ayat-ayatnya.
  3. Para ulama fiqh juga sepakat akan keharaman riba, hanya saja mereka berbeda pendapat dalam pengertian, syarat-syarat dan kaidah-kaidahya.
  4. Di era sekarang. antara bunga dan riba ada yang menyamakan dan ada pula yang membedakan. Sehingga ada yang mengharamkan produk bank konvensional sama sekali dan ada pula yang membedakan antara berbagai produk bank konvensional.

Daftar Pustaka

Al Qur’an dan terjemahnya, Semarang: PT Karya Toha Putra, 1995

Muhammad Fuad Abdul Baqi, Al Mu’jam al Mufahras lil Alfadhil Qur’an, Cairo: Darul Hadis, 2001

Muhammad Nasib ar Rifa’I, Taisirul ‘aliyyil Qadir, Riadh: Maktabah al Ma’arif,

Prof. Abdullah Siddik al Haji LL.D , Inti Dasar Hukum Dagang Islam , Balai Pustaka, cet I 1993

Drs.A.Kadir, M.H., Hukum Bisnis Syariah Dalam Al Qur’an, Penerbit Amzah, cet I 2010

Abu Zakaria Muhyidin Yahya bin Syaraf an Nawawi, al Minhaj Syarah shahih Muslim bin al Hajjaj, Beirut: Dar Ihya Turats

Abu Muhammad Mahmud Bin Ahmad, Umdatul Qary Syarh Shahih al Bukhari, Beirut: Darul Ihya Turats

Muhammad Ibn Mukarram ibn ‘Ali Ibn Mandhur, Lisanul ‘Arab, Beirut: Darus Shadir,

H.A. Djazuli, Ilmu Fiqh; penggalian, perkembangan dan penerapan hukum Islam, Jakarta: Prenada Media Group, 2006

http://www.jameataleman.org/main/articles.aspx?article_no=1752,diakses tanggal 24/12/2015 jam 04.56

[1] Ibn Mandhur:lisan ‘arab 4:304

[2] Al mabsuyh lis sarkhasi 12:119

[3] Ibid

[4] Mughnil muhtaj 2:363,

[5] Umdatul qariy, 11:199

[6] Ibnul ‘arabi; ahkamul qur’an1:321

[7] Al mughni 4:3

[8] Abu Bakar al Jashas Ahkamul qur’an:1:465

[9] Tafsir Kabir 2:351

[10]Shahih Muslim kitab masaqah hadis no 1587,

[11] [11] Muhammad Nasib Ar Rifa’I, Taisir ‘Aliyil Qadir, juz 1:311

[12] Muhammad Nasib Ar Rifa’I, Taisir ‘Aliyil Qadir, juz 1:469

[13] Q.S. Al Muddatsir:6

[14] H.A. Djazuli, Ilmu Fiqh; penggalian, perkembangan dan penerapan hukum Islam, Jakarta: Prenada Media Group, 2006, hlm 64.

[15] Ibrahim an Nugaimi,al I’jaz fi tahrimil riba

[16] Shahih Bukhari no 2615, Shahih Muslim no 89

[17] Shahih Muslim 2995

[18] Ibrahim an Nugaimi,al I’jaz fi tahrimil riba

[19] Syarah An Nawawi ‘ala Muslim, 9/11

[20] Al Baqarah:275

[21] Abdullah Siddik al Haji, Inti Dasar Hukum Dagang Islam, hal 107-108

[22] Abdullah Siddik al Haji, Inti Dasar Hukum Dagang Islam, hal 110

[23] Ibid hal 112

[24] Ibid hal 113

[25] Ibid ahl 114

Berani Berbuat Kebaikan

Oleh: AGUS TRIAWAN

Namanya juga zaman edan untuk menyebut istilah zaman terbalik. Orang makin berani berbuat maksiat di depan umum. Terang-terangan pacaran tanpa malu, korupsi bersama, mengumbar aurat, minuman keras, bahkan ada yang melacurkan diri dengan memasang plang dan yang menghebohkan akhir-akhir ini adalah iklan prostitusi lewat media online.

Orang berbuat kemaksiatan saja berani. Yang sudah jelas dosa dan ada ancaman dari Yang Maha Kuasa. Termasuk di dunia berlawanan dengan berbagai macam norma dan tentu saja dilaknat oleh sesama manusia. Kecuali oleh manusia yang sudah tidak punya rasa kemanusiaan. Hatinya penuh dengan noda maksiat kebinatangan. Hatinya tidak takut dengan ancaman Tuhan. Yang penting dirinya senang. Maka tentunya berbuat kebaikan harus berani. Tidak ada alasan untuk takut berbuat baik.

Amar ma’ruf nahi munkar, memerintahkan berbuat baik dan mencegah yang maksiat bukan hanya tugas ulama, takmir masjid, dai atau kyai. Bukan pula tugas kepolisian atau aparat negara saja. Tapi adalah tugas kita bersama. Apapun profesi tentu berkewajiban berbuat baik, apapun jenisnya kebaikan itu. Pencuri saja berani, koruptor saja berani, WTS saja berani, minuman keras di hadapan umum saja berani? Mengapa yang berbuat baik tidak berani? Allohu Akbar!

Memang keadaan masyarakat kita seolah orang berbuat baik seperti aneh, yang mau mengamalkan syariat dan menjalankan perintah Tuhan seolah asing dari perilaku masyarakat. Repotnya kemudian adanya gosip oleh masyarakat. Sholat 5 waktu berjamaah ke masjid, rajin mengaji, memakai busana muslimah bagi wanita adalah perkara kebaikan yang justru dianggap aneh oleh sebagian masyarakat. Sementara orang tidak ibadah, nongkrong di perempatan, wanita mengumbar aurat dianggap biasa saja. Itulah kita. Seolah sudah terbalik. Tapi santai saja. Kita punya prinsip. Dan itulah prinsip ketuhanan.

Rasulullah pernah mensinyalir bahwa Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing seperti pada kedatangannya, maka berbahagialah orang-orang yang asing. Artinya orang yang mengamalkan Islam dengan kaffah (sebenar-benarnya) justru kelihatan asing dan aneh. Hidup bermasyarakat tidak terlepas dari gosip, ghibah, bahkan fitnah. Selagi bisa menghindari, hindarilah berbuat negatif itu dan gantilah dengan hal positif.

Mengerahkan seluruh potensi baik yang dimiliki diri merupakaj jihad positif dan perbuatan ma’ruf yang akan ditolong Allah Swt. Allah berfirman dalam QS Al Hajj/22 ayat 78: “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan Jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang Muslim dari dahuludan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, Maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong.

Segala aktivitas kehidupan manusia akan ditanggung oleh masing-masing individu. Baik perbuatan ma’ruf maupun yang munkar. Lana A’maaluna walakum A’maalukum. Bagiku amalku dan bagimu amalmu. Karena itu ibda’ binafsik, mulialah dari dirimu sendiri. Tidak memaksa kepada orang lain berbuat baik.

Allah Swt dalam QS Fushilat ayat 46 berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh maka pahalanya untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang berbuat jahat maka dosanya atas dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menganiaya hamba-hamba-Nya.” Disinilah letak kemandirian beramal baik, atau dalam istilah lainnya beramal saleh. Ketika orang lain tidak beramal saleh, maka tidak ada pengaruhnya bagi kita. Terus saja kita beramal baik, walaupun tidak ada temannya. Syukur-syukur bisa saleh secara pribadi dan saleh secara sosial bermanfaat untuk orang lain.

Khoirunnasi anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Patut diingat juga, tidak boleh mengklaim bahwa kitalah yang terbaik. Kitalah yang paling saleh dan orang lain tidak saleh. Karena Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya ada orang secara lahiriyah terlihat berbuat amal ahli surga, padahal ia ahli neraka. Dan ada seseorang yang secara lahiriyah ia berbuat ahli neraka, padahal ia ahli surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Orang beramal juga ada syaratnya supaya diterima Allah SWT. Pertama adalah ikhlas lillahi ta’ala. Hanya mengharap ridha-Nya. Yang kedua adalah mutaba’ah, yaitu mengikuti contoh dari Rasulullah SAW.      Maksudnya sesuai dengan perintah syariat. Dalam hadits riwayat AlBukhari disebutkan bahwa sesungguhnya segala amal perbuatan itu sesuai dengan niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Allah juga berfirmana dalam QS Albayyinah ayat 5, “Dan tidaklah mereka diperintah untuk beribadah kepada Allah, kecuali dalam keaadaan mengikhlaskan diri dalam pengerjaanya penuh pengharapan dengan Tuhannya.” Maka latihan untuk ikhlas perlulah diupayakan terus menerus, apabila niat ini berbelok karena ingin dipuji atau ingin yang bersifat keduniawian lainya maka luruskanlah niat itu. Kembalilah ke jalan yang benar.

Allah juga memberi peringatan kepada orang yang beramal karena ingin balasan dunia. Maka akan diberinya langsung di dunia tapi tidak di akhiratnya. Na’udzubillah. Allah berfirman dalam QS Al Israa ayat 18-19, “Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, Maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.”

Niat adalah pangkal segalanya. Perbuatan kecil dan sepele bisa berpahala besar dan agung karena sucinya niat. Tapi bisa saja amalan yang besar bisa bernilai kecil karena

niatnya yang tidak suci. Abu Sulaim Ad-Darani mengatakan bahwa apabila seorang hamba berhati ikhlas, maka akan terputuslah darinya semua rasa was-was dan riya’ (pamer).

Disamping ikhlas, dalam beramal juga sesuai dengan perintah syariat. Perintah Allah dan Rasulnya. Tidak hanya cukup dengan ikhlas saja. Semisal sedekah, ikhlas tapi hasil dari mencuri atau korupsi. Atau sebaliknya sedekah dari jalan yang halal tapi tidak ikhlas, ingin mengharap pujian. Atau salat shubuh sesuai kewajiban syariat adalah dua rakaat, tetapi karena sedang semangat beribadah, seseorang menambah sendiri menjadi tiga rakaat , maka tidak diterimalah shalat shubuhnya. Maka ikhlas dan mutaba’ah itulah kunci diterimanya amal ibadah.

Manusia adalah makhluk yang lemah. Hati manusia sering berbolak-balik. Antara ikhlas dan tidak ikhlas. Ya Allah ikhlaskanlah hati ini untuk beramal karenaMu, dan tunjukilah kami jalan yang lurus yang diridhai oleh-Mu. Berilah kepada kami kekuatan untuk terus beramal baik, walaupun tantangan dan hambatan datang.

Ya Allah Ya Tuhan kami, semoga kami bisa menjumpai bulan ramadhan yang sebentar lagi akan datang. Dan semangatkanlah kami untuk mengisinya dengan kebaikan. Amin ya mujibassailin.*)

Pernah dimuat di Harian Satelit Post Hari Jumat hari kedua Ramadan 1436 H

           

 

Shiyam, Tarawih dan Ketenangan Jiwa

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu bahwasanya Rasulullah Saw bersabda: “Puasa itu merupakan benteng, Jika salah seorang diantara kamu berpuasa, janganlah ia berkata keji dan mencaci maki. Seandainya ada orang yang menganjaknya berkelahi atau mencaci-makinya, hendaklah dikatakan ‘sesungguhnya aku ini orang yang sedang berpuasa’, sebanyak dua kali. Demi Tuhan yang nyawa Muhammad berada dalam tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum dari bau minyak kasturi. Allah berfirman, ‘Ditinggalkannya makan, minum dan nafsu syahwatnya karena Aku. Puasa itu adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan memberinya ganjanran, sedangkan setiap kebajikan itu akan mendapat ganjaran sepuluh kali lipat.” (HR Bukhari dan Abu Dawud)

Sebagaimana kita ketahui puasa secara bahasa mempunyai arti Imsak, yaitu menahan. Maksudnya menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Adapun hal-hal yang membatalkan puasa adalah makan, minum dan berhubungan suami istri secara sengaja, haid, nifas, muntah dengan sengaja, murtad dan lainnya.

Orang yang berpuasa disyariatkan juga menjauhkan diri dari berkata dan perbuatan dusta, ghibah (menyebut kejelekan orang), namimah (mengadu domba) melaknat (mendoakan orang dijauhkan dari rahmat Allah) dan menghina atau mencaci maki orang. Hendaknya juga orang yang berpuasa menghindari diri dari perkataan yang jorok, kotor dan menyakiti orang lain, menjaga mata, telingan, lidah dan anggota tubuhnya dari perkataan atau sesuatu yang diharamkan Allah SWT.

Orang yang berpuasa diberikan kabar gembira dengan diampuni dosa-dosanya yang telah lewat. Man Shaama ramadhaana imaanan wahtisaaban ghufira lahu maa taqoddama min dzambih, Barang siapa yang berpuasa ramadan karena iman dan mengharap ridha Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

Inilah salah satu perintah Allah kepada orang yang beriman, “Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertakwa.” (QS Albaqarah: 183). Puasa juga salah satu rukun iman yang lima, selain syahadat salat, zakat dan haji ke baitullah. Puasa adalah ibadah yang tidak memakai harta benda seperti zakat dan haji.

Orang yang berpuasa ditunggu oleh pintu khusus di Surga yaitu pintu Rayyan yang berarti pemuas dahaga. Dipanggil pada hari kiamat, manakah orang yang berpuasa? Apabila orang terakhir dari ahli puasa telah masuk maka pintu rayyan pun akan ditutup.

Orang mukmin pada bulan Ramadan melakukan dua jihad, yaitu jihad di siang hari dengan melakukan puasa dan jihad di malam hari dengan melakukan salat malam atau dikenal dengan tarawih. Barang siapa yang memadukan dua ibadah, memenuhi segala hak-haknya dan bersabar terhadapnya maka diberi pahala yang besar.

Dikalangan orang ‘awam, salat tarawih merupakan amalan yang lumayan berat, di saat perut masih kekenyangan karena berbuka pusa datanglah waktu salat isya. Tergopoh-gopohlah seseorang menuju kamar mandi, ambil air wudhu dan berangkat ke masjid. Dilanjutkan dengan salat tarawih dan witir. Beberapa takmir masjid mengadakan juga kultum (kuliah sejenak ) dalam rangkaian salat tarawih tersebut. Seseorang itu berhasil memaksa dirinya untuk ikut tarawih bersama di masjid. Puji syukur kehadirat Allah SWT.

Ada juga orang khusus (khawas), yaitu orang yang senang hati ketika melakukan salat tarawih. Sebelum azan berkumandang sudah siap dan bersemangat menuju ke masiid. Bahkan menjadi pionir, panitia dan mengajak anggota keluarga dan masyarakat untuk ikut serta.

Ada juga golongan yang salat isya di masjid. Salat tarawihya dilakukan di malam hari sepertiga malam terakhir. Mengharap ridha Allah, semangat dan ikhlas diri dalam bertaqarrub kepada Allah SWT.

Repotnya ada golongan lain yaitu, yang bermalas-malasan yang akhirnya tidak masuk golongn manapun. Tidak tarawih bersama masyarakat, tidak tarawih di malam terakhir dan tidak mau memaksa diri untuk tarawih. Itulah jihad di malam ramadan. Dalam riwayat Muttafaq ‘alaih orang yang salat malam di malam ramadan akan diampuni dosanya yang telah lalu. Tarawih juga bisa bermakna istirahat. Sehingga hendaknya salat tidaklah cepat-cepat, tapi pelan , tumakninah dan khusu’ bertaqarrub kepada Allah.

Ada fenomena menarik yang terjadi di bulan ramadan. Di kala bulan yang mulia ini datang. Sebagaimana kaum muslimin menyambutnya dengan ibadah dan suka cita. Tapi ada yang kebalikannya ada sebagian kaum muslimin yang menyambutnya dengan hal-hal mubah bahkan bertentangan dengan agama dengan mengganggu saudaranya sesama muslim. Yaitu menjual dan mengedarkan petasan. Memasang stand khusus di pinggir-pinggir jalan untukl menjual petasan tersebut. Mercon dan bahan peledak kecil yang menggangu orang beribadah. Memang itu adalah hak asasi manusia tapi ada hak asasi manusia lain yang perlu dihormati. Ketika sedang menjalankan ibadah tarwawih atau subuhan mendengan ledakan mercon maka terganggunlah ibadahnya. Bahkan ada yang bisa menjadi sakit karena kekagetannya.

Semua amal perbuatan manusia akan dimintai pertannggung jawaban di hadapan Allah kelak. Ketika dinasehati bahkan diperiksa aparat berwajib berdalih ini adalah pekerjaan dan hanya menjual kembang api, tapi hati-hatilah Allah melihat dan mendengar semua perkataan kita.

Fenomena unik yang lain adalah berjalan-jalan di waktu pagi seusai salat subuh berjamaah dan menjelang buka puasa. Ketika berjalan-jalan itu untuk perkara mubah maka tidaklah mengapa dan dibolehkan. Tetapi ketika berlawanan dengan syariat, seperti mengganggu orang dan mengumbar aurat, berpacaran, maka itulah yang terlarang.

Ada aktifitas yang istimewa yang perlu dilestarikan adalah menjamurnya majelis ilmu di berbagai tempat. TPA atau TPQ, pengajian ibu-ibu, pengajian remaja, training dai dan sejenisnya di masjid, mushalla, madrasah, sekolah, pondok pesantren bahkan di kantor-kantor juga tidak kalah mengadakan majlis ilmu. diisi Dengan materi keislaman untuk lebih memperdalam keilmuan syariat. Semoga momen baik itu terus istiqomah sampai akhir Ramadan dan terus berjalan walaupun nantinya ramadan berlalu. Tapi tetap majlis ilmu tidak berlalu.

Bulan Ramadan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia dan sebagai pembeda antara hak dan batil. Maka program pembelajaran Al-Qur’an terus ditingkatkan. Belajar makhorijul huruf, tahsin dan tajwid sehingga membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Setelah rutin tadarus maka lebih ditingkatkan dengan tafhim, proses memahami Al-Qur’an , dengan kajian tafsir Al-Qur’an. Sehingga Al-Qur’an tidak hanya sebagai pajangan an sich tapi dibaca, ditadabburi, dihafal dan diamalkan. Semoga Allah menuntun kita untukterus istiqomah denagn Al-Qur’an.

Semangat bersedekah, berinfak, berzakat juga meningkat dalam bulan ini. Allah juga menjanjikan pahala berlipat bagi orang yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah. Bahkan memberikan janji dengan balasan yang lebih baik, sepuluh kalinya bahkan sampai tujuh ratus kali lipatnya.

Itulah sinergi umat Islam. Yang kaya menafkahkan hartanya di jalan Allah. Yang tidak berkemampuan menerima zakat tanpa merasa terhina. Umat Islam bahu membahu , berlomba dalam kebaikan. Kompak dan tidak ada su’uzan. Masjid ramai dengan syiar agama, Koran juga menambah rubrik agama khusus di bulan ramadan. Televisi secra khusus menyiarkan acara ramadan, ya semoga tidak hanya demi rating tapi untuk Islam wal muslimin.

Ketika umat Islam bekerja sama untuk beribadah kepada Allah, tanpa saling menjatuhkan, bergandeng tangan, salat bersama, ibadah bersama, saling mengucapkan salam, saling menasehati dalam kebaikan niscaya ada kemajuan. Tapi ketika saling menjatuhkan, berprasangka buruk, tidak saling membantu, menghina bahkan bermusuhan maka niscaya kehancuraan yang didapat.

Allah SWT menyukai hamba Allah yang berjuang dalam keadaan bershaf-shaf kompak seperti bangunan yang kokoh. Semoga dengan puasa yang dilaksanakan Allah menjadika kita termasuk orang-orang yang bertaqwa sebagaimana dalam QS Albaqarah ayat 183. Ya Allah, jadikanlah kami dan segenap umat Islam termasuk orang yang benar-benar berpuasa pada ramadan ini, yang pahalanya sempurna, yang mendapat lailatul qadar dan betul-betul mendapat karunia dari Allah. Wahai dzat yang hidup, kekal dan maha kuasa. Wahai dzat yang memilki keagungan dan kemuliaan. Kabulkanlah permohonan kami. Semoga salawat serta salam senantiasa dilimpahkan kepada nabi Muhammad, keluarga, sahabat dan semua kaum muslimin yang mengikuti risalahnya. Amin. Wallahu a’lam *)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di harian Satelit Post Jumat Wage 3 Juli 2015

TOBAT NASIONAL

TobatSebaik-baik orang adalah yang bertobat dan menyesal setelah melakukan kesalahan, kemaksiatan ataupun kejahatan. Sesuatu yang fitrah dan tak dapat dielakkan oleh manusia adalah berbuat salah. Karena manusia biasa bukanlah maksum yang bebas dari salah dan dosa. Baik perbuatan dosa yang berkaitan dengan muamalah sesama manusia maupun yang berkaitan dengan ketuhanan.

Tobat adalah perbuatan terpuji yang seyogyanya menempel pada diri umat muslim. Dengan bertobat orang akan menyadari dengan sepenuh hati akan kesalahan dan berusaha merubah dengan sekuat tenaga ke arah kebajikan sesuai jalur syariat dan jalur hukum di dunia.

Tobat berasal dari kata Taaba-Yatuubu-Taubatan. Yang berarti kembali. Maksudnya adalah kembali ke jalan ketaatan setelah melakukan kemaksiatan, kembali benar setelah salah, kembali sholeh setelah tholih (durhaka), kembali dari sifat tercela menuju sifat terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintah Allah, kembali dari sesuatu yang dibenci Allah menuju sesuatu yang dicintai-Nya.

Allah berfirman berfirman mengenai perintah bertaubat dalam QS At Tahrim ayat 8, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb Kami, sempurnakanlah bagi Kami cahaya Kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Seseorang yang betaubat tidak cukup dengan hanya mengatakan “Saya bertaubat”. Tapi ada beberapa syarat yang harus dilakukan oleh orang yang bertaubat, yaitu: menyadari kesalahan, menyesali kesalahan, Istighfar (memohon ampun kepada Allah), berjanji tidak akan mengulangi dan menutup kesalahan dengan amal kebajikan.

Rasulullah SAW adalah orang yang maksum, terbebas dari kesalahan. Beliau beristighfar dalam sehari seratus kali. Apalagi dengan orang biasa yang bukan nabi, bukan rasul dan bukan pula orang yang maksum. Maka layaklah bagi manusia biasa untuk beristighfar setiap hari.

Mengakui kesalahan memang berat. Apalagi mengakui kesalahan di hadapan orang banyak, malu, takut turun wibawa, gengsi, dan lain-lain. Tapi apakah lebih baik malu di hadapan manusia dan tidak malu di hadapan Allah ? Takut gengsi di dunia turun, tapi tidak takut terhadap azabnya Allah di akhirat?

Seorang muslim hendaknya dengan kesadaran sendiri bertobat dan mengakui kesalahan apabila bersalah. Tidaklah layak sudah tahu bersalah malah memungkiri kesalahannya. Adanya lembaga seperti Kepolisian Negara, KPK, kejaksaan, Kehakiman dan lembaga yang sejenis adalah untuk membantu Taubat kita apabila salah. Bukan untuk membela diri atau membela yang salah. Justru terima kasih kepada lembaga seperti KPK yang sudah membantu dengan sepenuh jiwa untuk kebaikan kita bersama.

Tidak ada masalah dan tidak aib pula apabila kita disidang di pengadilan dunia. Apabila salah, akui kesalahan. Apabila benar, berkatalah bahwa kita benar. Begitu juga dengan pembela, belalah kebenaran bukan bela yang bayar. Berapa lama sih hidup di dunia. Toh, tidak selamanya. Lebih baik tobat di dunia dari pada tobat di akhirat yang sudah tidak ada gunanya. Bahkan karena tidak ada gunanya penyesalan itu, ada yang berandai agar menjadi tanah saja supaya tidak dihisab di akhirat (lihat QS Annaba: 39-40)

Kasus-kasus kejahatan dan kemaksiatan dalam berbagai bidang, korupsi, pembunuhan, perampokan, penipuan, perzinaan, sumpah palsu, minuman keras (khamer), insya Allah akan cepat tuntas jika dari para pelaku melakukan taubat nasuha. Taubat dengan sebenar-benar taubat. Bukan tobat karena sudah kepepet dan tidak ada jalan lain.

Janganlah energi kita habis hanya untuk mengurusi kejahatan dan kemaksiatan. Lebih baik disibukkan dengan ketaatan kepada Allah SWT, mempelajari ayat-ayat kekuasaan Allah, mentadabburinya, sehingga iman kita bertambah dan makin tenang hidup kita. Tak masalah hidup tidak bergelimang harta, tak masalah tak punya jabatan. Tetapi hidup penuh kenyamanan, makanan yang dimakan berasal dari yang halal, baju yang dipakai berasal dari yang halal, nafkah untuk anak dan istri berasal dari usaha yang halal. Semuanya halal walaupun pas-pasan, itu lebih baik, daripada berlebih tetapi hasil korupsi dan manipulasi. Memang ketika menjadi pelaku dan mendapatkan hasil yang banyak dari hasil korupsi atau mencuri rasanya senang bergelimang harta. Tapi, dengan hal itu justru akan menyengsarakannya dalam kehidupannya kelak.

Bertobat sifatnya adalah kesegeraan. Tidak menunggu dan mengulur-ulur waktu sampai ketahuan manusia. Bersegeralah menuju ampunan tuhanmu yang menciptakan. Marilah bertaubat sebelum terlambat dan menyesal selama-lamanya.*)